Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, Agustus 10, 2009

Asal-usul Tangerang sebagai Kota Benteng

Untuk mengungkapkan asal-usul tangerang sebagai kota "Benteng", diperlukan catatan yang menyangkut perjuangan. Menurut sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC,resolusi tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru tersebut Sultan Banten telah memindahkan 5 sampai 6.000 penduduk.



Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 diberitakan bahwa Sultan Banten telah mengangkat Radin Sina Patij dan Keaij Daman sebagai penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai akan merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan tersebut Ki Demang sakit hati. Kemudian tindakan selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan.

Dalam arsip VOC selanjutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menjelaskan bahwa penguasa Tangerang pada waktu itu adalah Keaij Dipattij Soera Dielaga. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja minta perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini terdapat dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi tempat di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni.

Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta ahli perangnya berhasil memukul mundur pasikan Banten. Atas jasa keunggulannya itu kemudian ia diberi gelar kehormatan Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya adalah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi kekuasaan kompeni, Banten tidak mempunyai hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satu pasal dari perjanjian tersebut berbunyi: "Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni"

Dengan adanya perjanjian tersebut daerah kekuasaan bupati bertambah luas sampai sebelah barat sungai Tangerang. Untuk mengawasi Tangerang maka dipandang perlu menambah pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, karena orang-orang Banten selalu menekan penyerangan secara tiba-tiba. Menurut peta yang dibuat tahun 1962, pos yang paling tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah utara Kampung Baru. Namun kemudian ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang.

Menurut arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat menyetujui usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan agar orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang akan dibangun untuk ditempati itu direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Disana akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makasar yang akan tinggal diluar benteng. Bahan dasar benteng adalah batu bata yang diperoleh dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I.

Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini kemudian menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, diputuskan untuk memperbaiki dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang pribumi pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan "Benteng". Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut "Superintendant of Publik Building and Work" tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: "...Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya"()

Sumber : www.tangerangkota.go.id
Selengkapnya...

Marhaban Ya Ramadhan

Ramadhan…Bulan yang dirindukan hampir tiba…Marhaban Ya Ramadhan…Selamat datang wahai Ramadhan. Ramadhan adalah bulan nan penuh berkah, maghfirah dan pembebasan dari api neraka, yang di dalamnya Allah menurunkan kitab mulia, petunjuk dan cahaya, di dalamnya pula Allah memberikan kemenangan besar bagi hambaNya pada saat perang Badar. Ramadhan adalah bulan istimewa, sungguh merupakan nikmat yang sangat besar adalah berjumpa bulan Ramadhan untuk memakmurkannya dengan berbagai amal saleh demi mencapai ridha Allah.


Sungguh sangatlah rugi orang yang tidak bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut dan menyamakan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Marilah kita berlomba-lomba untuk mendapatkan semua keutamaan tersebut agar kita mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Amien.


MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
Hendaklah kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan beberapa perkara berikut:
1. Membayar hutang puasa (apabila mempunyai hutang) sebelum masuk bulan Ramadhan.
2. Memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an serta amal saleh lainnya pada bulan Sya’ban untuk persiapan Ramadhan.
3. Mempersiapkan diri (lahir dan batin / jasmani dan rohani) secara matang.
DIANTARA KEUTAMAAN SHOUM (BERPUASA) DAN BULAN RAMADHAN:
1. Diturunkan di dalamnya Al-Qur’an. (QS. Al-Baqarah: 185).
2. Pintu-pintu surga dibuka dikarenakan banyaknya amal saleh dari orang-orang mukmin.
3. Pintu-pintu neraka ditutup sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin dikarenakan sedikitnya maksiat.
4. Setan-setan dibelenggu sehingga tidak sebebas hari-hari lainnya. ( Ketiganya adalah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim beserta syarh para ulama).
5. Setiap malam ada penyeru yang berseru: “Wahai orang yang berbuat kebaikan menghadaplah dan wahai orang yang berbuat keburukan berhentilah”.
6. Setiap malam Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari api neraka. (Keduanya adalah hadits riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad hasan).
7. Orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala Allah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Pahala puasa dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas. (HR. Bukhari dan Muslim).
9. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu: ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).
10. Bau mulut orang berpuasa lebih wangi disisi Allah dari Misk (parfum yang paling wangi). (HR. Bukhari dan Muslim).
11. Puasa adalah tameng pelindung dari api neraka. (HR. Bukhari dan Muslim).
12. Orang yang berpuasa akan mendapatkan keistimewaan dengan surga yang dikhususkan untuk mereka, yaitu: Ar-Royyan. (HR. Bukhari dan Muslim).
13. Puasa kelak memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang yang berpuasa. (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dll dengan sanad hasan).
14. Orang yang berpuasa termasuk shiddiqin dan syuhada. (HR Ibnu Hibban dengan sanad shahih).
15. Barangsiapa melakukan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
16. Barangsiapa shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka dicatat untuknya shalat semalam suntuk. (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani).
17. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 1-5)
18. Do’a orang berpuasa dikabulkan terutama menjelang berbuka. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
19. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menambahnya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal maka seakan dia berpuasa selama setahun. (HR. Muslim).

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami
[www.hatibening.com/www.kajianislam.net]
Selengkapnya...

Kamis, Agustus 06, 2009

Nishfu Sya'ban

BULAN SYA'BAN (bulan kedelapan dalam sistem penanggalan Hijriyah) adalah bulan yang penuh keutamaan namun sering dilupakan umat Islam karena bulan ini diapit oleh dua bulan utama. Pertama, bulan Rajab yang teristimewa karena pada bulan ini terjadi peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan kemudian mulailah ada kewajiban melaksanakan shalat lima waktu. Kedua bulan Ramadhan, saat kaum muslimin diwajibkan menjalankan puasa sebulan suntuk dan saat pahala kebaikan dilipatgandakan.


Sedianya bulan Sya’ban tidak dilupakan karena setelah mendapatkan banyak pelajaran tentang Isra’ Mi’raj dan setelah membenahi shalat kita pada akhir bulan Rajab, maka pada bulan Sya’ban saatnyalah mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan.

Lagi pula, dalam bulan Sya’ban sendiri terdapat berbagai keistimewaan. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam Nishfu Sya'ban (pertengahan Sya’ban) ke langit dunia dan akan mengampuni manusia lebih dari jumlah banyaknya bulu kambing dan anjing. [HR Tirmizi].

Mu'az Ibn Jabal meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Pada malam Nishfu Sya'ban. Allah akan melihat semua makhluk-Nya, kemudian mengampuni mereka kecuali yang musyrik dan orang yang memusuhi orang lain. [HR Sunan Ibn Majah].

Oleh para ahli hadits, dua hadits di atas dianggap yang tidak terlalu valid alias dla’if karena ada beberapa kesimpangsiuran dalam periwayatan dan mengenai periwayat haditsnya (sanad). Namun guna menyemangati hamba dalam menjalankan ibadah (fadlailul a’mal) para ulama membolehkan hadits ini sebagai pegangan. Selain itu, diriwayatkan juga Rasulullah SAW paling mencintai bulan ini dan beliau tidak melakukan puasa (selain Ramadhan) sebanyak puasa di bulan ini [HR Ahmad dari Usamah bin Zaid].

Nah, ada perbedaan pendapat diantara umat Islam dalam menyikapi satu hal dalam bulan ini, yaitu yang tersebut dalam hadits di atas sebagai Nishfu Sya’ban. Nishfu artinya setengah atau pertengahan. Nishfu Sya'ban berarti pertengahan bulan Sya'ban atau malam tanggal 15 Sya'ban dan esok harinya. Sebagian besar umat Islam menjalankan berbagai macam ibadah pada malam nisfu sya’ban, namun umat Islam yang lain ada yang tidak sepakat dan bahkan menganggap ibadah yang telah dilakukan oleh umat Islam pada malam Nishfu Sya’ban itu sebagai ibadah yang menyimpang atau mengada-ngada (bid’ah) karena tidak dicontohkan atau diperintahkan oleh Nabi secara langsung.

Ibn al-Jauzi memopulerkan hadits dari Abi Hurairah bahwa Nabi SAW telah bersabda: Siapa yang melakukan shalat pada malam Nishfu Sya'ban sebanyak dua belas rakaat dan membaca qul huwallahu ahad (Surat al-Ihlas) tiga puluh kali pada setiap rakaatnya, ia tidak akan keluar dari dunia ini sebelum melihat tempat duduknya di dalam surga dan memberi syafa'at sepuluh orang ahli keluarganya yang seluruh masuk neraka.

Di dalam hadits ini ada enam orang perawinya yang identitasnya kurang lengkap (majhul), yaitu: Ahmad Ibn 'Ali Al-Khatib, Abu Sahl 'Abd As-Samad Ibn Muhammad Al-Qantari, Abu Al-Hasan 'Ali Ibn Ahmad Al-Yunani, Ahmad Ibn 'Abd Allah Ibn Dawud, Muhammad Ibn Jabhan, dan 'Umar Ibn Ar-Rahim.

Hadits lain ditakhrij oleh oleh Imam As-Suyuti bahwa Ibrahim meriwayatkan 'Ali Ibn Abi Talib melihat Rasulullah pada malam Nishfu Sya'ban berdiri lalu beliau melakukan shalat empat belas rakaat. Setelah selesai lalu Nabi duduk kemudian membaca ummul Qur'an (Surat Al-Fatihah) empat belas kali, qul huwallahu ahad (Surat al-Ihlas) empat belas kali, ayat kursi satu kali. Ketika Nabi selesai shalat Ali bertanya tentang apa yang telah dia lihat. Rasulullah SAW lalu bersabda: "Siapa yang melakukan yang seperti apa yang telah engkau lihat, adalah baginya seperti dua puluh kali mengerjakan haji yang mabrur (sempurna), puasa dua puluh tahun yang maqbul (diterima), dan jika ia puasa pada siangnya, ia seperti puasa enam puluh tahun yang sudah lalu dan setahun yang akan datang.

Hadits yang tersebut di atas juga menyandung tujuh orang perawinya yang majhul bahkan ada seorang perawi yang dianggap sebagai pemalsu hadits yaitu Muhammad Ibn al-Muhajir sebagaimana penilaian yang dikemukakan oleh As-Suyuti sendiri.

Dengan demikian hadits-hadits yang menjelaskan ibadah yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW seperti di atas adalah dla’if. Para ulama menyatakan bahwa hadits dla’if dapat diamalkan dan diikuti sebatas sebagai penyemangat ibadah (fadailul a'mal), berisi nasihat-nasihat dan cerita-cerita baik, bukan untuk menentukan halal dan haram dan tidak berhubungan dengan sifat-sifat Allah SWT. Pendapat ini diperpegangi oleh Ahmad Ibn Hanbal, an-Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, As-Suyuti, dan lainnya.

Perdebatan di kalangan umat Islam juga semakin mendalam ketika ada kalangan umat Islam lainya yang tidak menyia-nyiakan malam nisfu Sya’ban untuk melakukan beberapa keutamaan seperti membaca surat yasin dan tahlil. Bagi kalangan yang terlalu kaku menganggap ibadah ini mengada-ngada karena jelas-jelas tidak ada hadits yang dloif sekalipun. Kalangan yang tersebut barusan tidak melakukan ibadah apapun yang pada waktu-waktu tertentu tidak dilakukan, diperintahkan atau dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

(A. Khoirul Anam)Sumber : http://www.nu.or.id
Selengkapnya...

Rabu, Agustus 05, 2009

SINAR MATAHARI YANG MENYEHATKAN

Studi terbaru tentang Bioteknologi menemukan bahwa, Sinar-Inframerah-Gelombang Panjang (Far Infrared/FIR dengan panjang gelombang antara 6-14 mikron) yang bisa kita dapat pada saat matahari condong yaitu sebelum pukul 09.00 pagi dan setelah pukul 16.00 sore, berperan penting dalam formasi dan pertumbuhan makhluk hidup. Termasuk memiliki banyak manfaat untuk tubuh manusia .

Manfaat itu antara lain :
- Membantu memproduksi Vit.D. Disaat mengenai kulit, sinar matahari mengubah simpanan kolesterol di bawah kulit menjadi Vit. D. Memaparkan 5 menit, akan memberikan 400 unit Vit D.Vit D yang dihasilkan akan membantu penyerapan kalsium yang bermanfaat untuk menguatkan tulang, memperbaiki tulang dan mencegah osteoporosis, Rakhitis dan Osteomalacia (Pelembutan tulang yang tidak normal)
-Sinar matahari memiliki efek desinfektan atau pembersih kuman.Bisa membunuh bakteri, Virus dan jamur.
Sangat bermanfaat untuk perawatan TBC, keracunan darah, peritonitis, pnemonia dan asma saluran pernafasan.
-Menurunkan resiko diabetes, karena sinar matahari memberikan kemudahan bagi glukosa untuk diserap masuk ke dalam sel sel tubuh. ini merangsang tubuh untuk mengubah gula darah (Glukosa) menjadi gula yang tersimpan (Glycogen) yang tersimpan di hati dan otot , sehingga menurunkan gula darah.
-Meningkatkan kapasitas darah untuk membawa oksigen dan menyalurkan kejaringan-jaringan tubuh.
-Menambah sel darah putih, terutama limfosit, yang digunakan untuk menyerang penyakit dan antibodi (Gamma Globulins)menjadi bertambah.

Demikian semoga bermanfaat.

Sumber
Majalah Ar-risalah
Sya'ban-Ramadhan 1430 H/Agustus 2009
Selengkapnya...

Situs Bersejarah Tangerang Nyaris Punah

Situs bersejarah di Kota Tangerang nyaris punah. Saat ini tinggal 13 situs yang masih tersisa di permukaan tanah dan tak terawat. Padahal situs tersebut seharusnya dilindungi karena mengandung nilai pendidikan dan bisa menjadi obyek wisata sejarah Kota Tangerang.


Situs bersejarah di Kota Tangerang nyaris punah. Saat ini tinggal 13 situs yang masih tersisa di permukaan tanah dan tak terawat. Padahal situs tersebut seharusnya dilindungi karena mengandung nilai pendidikan dan bisa menjadi obyek wisata sejarah Kota Tangerang.

Situs yang masih tersisa antara lain bekas benteng Belanda berbentuk limas, segi empat dan menara pantau di pinggir kali Cisadane, Jalan Kisamaun, Kali Pasir Kota Tangerang. Selain itu terdapat makam yang masih berada di atas permukaan tanah yang juga berada di pinggir kali Cisadane.

Dua situs lain berupa pintu gerbang milik Belanda di Jalan Daan Mogot, Batuceper, Kota Tangerang bertuliskan Leen Hoof dan Weer Gade.

Menurut Uyus Setyabakti, Sekretaris Koalisi Antar Generasi, tiga situs 'bentengan' yang tepat berada di pinggir kali Cisadane setengahnya kini berada di bawah permukaan air.

Situs yang merupakan cikal bakal nama Tangerang tersebut kini terancam rusak oleh pembangunan turab kali Cisadane. Sementara itu tiga situs bersejarah yaitu rumah tua 'Oei Ji San' dan rumah bola serta pabrik karet 'rubben klappen' di Karawaci telah jelas-jelas hilang.

Uyus Setyabakti menyayangkan hilangnya situs-situs tersebut. Menurutnya, pemerintah setempat seharusnya menyikapi dengan menerbitkan SK Walikota atau kepala daerah yang menyatakan bahwa situs tersebut milik Kota Tangerang atau pemerintah setempat.

"Perawatannyapun harus dibiayai oleh pemerintah setempat," kata Uyus Setyabakti kepada tangerangonline, Selasa (04/08/09).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Budaya serta Pariwisata Kota Tangerang, Tabrani, menyatakan telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menjaga situs-situs bersejarah tersebut.

"Untuk yang di pinggir kali Cisadane (makam), kita telah berkoordinasi dengan pelaksana proyek turab pelebaran kali Cisadane agar tidak merusak situs yang berada di sekitar lokasi," kata Tabrani melalui telepon

Sumber : www.tangerangonline.com
Selengkapnya...

Allah SWT Menunggumu

Seandainya kita mengetahui bahwasanya kita memiliki seorang raja yang mampu menjamin segala kebutuhan hidup kita di dunia dan di akhirat, yang berkuasa untuk mengampuni dan menghukum segala bentuk kesalahan kita, yang mampu menyelamatkan kita dari segala bentuk musibah dan kemudharatan, yang mampu menimpakan musibah kepada kita, yang tidak pernah berdusta atau menzalimi kita, yang selalu siap untuk membela kita, yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita dalam hal apapun, yang tiada tandingannya dalam hal apapun, tiba-tiba menunggu kedatangan kita… mungkin kita tidak akan berpikir panjang lagi, kita akan segera mendatanginya tanpa menunggu apapun. Dan sebisa mungkin, tentunya kita akan berusaha untuk membawakan sesuatu yang terbaik dari yang kita miliki.



Segera menghampiri serta membawakan dan memberikan yang terbaik dari yang kita miliki, itulah yang pastinya akan kita lakukan. Dan itulah yang memang sepatutnya kita lakukan terhadap seorang raja yang memiliki jasa teramat besar tiada taranya bagi kita.
Hal itu pulalah yang harusnya kita lakukan kepada Allah swt, Penguasa seluruh alam. Allah swt yang menjamin segala kebutuhan hidup seluruh makhluk, Allah swt yang berkuasa untuk mengampuni dan menghukum segala bentuk kesalahan dan dosa seluruh makhluk-Nya, Allah swt yang mampu menyelamatkan kita dari segala bentuk musibah dan kemudharatan, Allah swt yang mampu menimpakan musibah sebagai teguran maupun hukuman bagi seluruh makhluk-Nya, Allah swt yang tidak pernah berdusta atau menzalimi kita, Allah swt yang selalu siap membela umatnya yang benar, Allah swt yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi seluruh makhluk-Nya, Allah swt yang tiada tandingannya dalam hal apapun.
Tahukah engkau bahwa sesungguhnya Allah swt senantiasa menanti kita semua? Allah swt rindu akan perbuatan baik kita kepada-Nya. Allah swt ingin sekali agar kita berbuat baik kepada-Nya. Tahukah engkau dimana Allah swt senantiasa menanti kita?
Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya Allah swt senantiasa menanti kita semua ditempat dimana orang-orang miskin, orang-orang yang kelaparan, orang-orang yang kehausan, dan orang-orang sakit berada. Allah swt menanti kita di tempat hamba-hamba-Nya yang tidak mampu, serba kekurangan, dan membutuhkan uluran tangan dari kita.
Rasulullah saw bersabda:
Abu Hurairah ra. berkata:Rasulullah saw bersabda, “Pada hari kiamat Allah swt akan memanggil dan berkata: ‘Hai anak Adam, Aku sakit dan kau tidak menjenguk kepada-Ku’. Jawabnya: ‘Rabb-ku bagaimana aku menjenguk kepada Engkau padahal Engkau Rabbul’alamin?’ Firman Allah swt: ‘Apakah kau tidak tahu bahwa si fulan hambaku sedang sakit, maka kau tidakmenjenguk padanya. Apakah kau tidak mengetahui sekiranya kau menjenguk niscaya kau akan mendapati Aku di sana?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan, maka tidak kau beri makan.’ Jawabnya: ‘Rabb-ku, bagaimana aku akan memberi makan kepada Engkau padahal Engkau Rabbul’alamin?’ Firman Allah swt: ‘Tidakkah kau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu, maka tidak kau beri makan. Apakah kau tidak tahu bahwa sekiranya kau memberi makan kepadanya, tentu kau dapatkan itu pada-Ku?’ 'Hai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu, maka tidak kau beri minum.’‘Rabb-ku bagaimana aku akan memberi minum kepada-Mu padahal Engkau Rabbul’alamin.’ Firman Allah swt: ‘Fulan hamba-Ku minta minum kepadamu, maka tidak kau beri minum, apakah kau tidak mengetahui bahwa sekiranya kau beri minum, niscaya kau mendapatkan itu padaku.’” (HR. Muslim, Kitab Riyadhus shalihin II). Jawabnya:
Wahai saudaraku, ingatkah kita sedah berapa banyak orang miskin yang kelaparan, kehausan, sakit, dan membutuhkan uluran tangan kita namun kita mengabaikannya. Kita tidak membantunya, justru kita berburuk sangka kepada mereka, mencurigai mereka, membenci mereka, dan menjauhi mereka.
Bayangkanlah saudaraku, bagaimana jika orang yang menderita itu, yang kelaparan, yang kehausan, yang sakit, yang membutuhkan pertolongan itu adalah diri kita, bukan mereka, apa yang akan kita lakukan?
Hadits di atas mengatakan bahwa Allah swt senantiasa bersama orang-orang yang lemah, miskin, kelaparan, kehausan, dan membutuhkan pertolongan. Kemudian, hadits tersebut uga menggambarkan betapa sombongnya orang yang mampu namun tidak mau mengulurkan bantuannya kepada saudara-saudaranya yang tidak mampu, betapa sombongnya orang yang tidak memperdulikan keadaan orang-orang yang kelaparan dan kehausan, padahal Allah swt Dzat Yang Maha Sempurna sedang bersama mereka menunggu uluran tangan kita.
Berdasarkan hadits di atas, tidak memperdulikan nasib saudara-saudara kita yang tengah mengalami penderitaan, baik karena musibah, penyakit, kemiskinan, dan sebagainya, berarti sama saja tidak memperdulikan Allah swt. Maka bersiaplah untuk mendapatkan sidang Allah swt di hari kiamat kelak.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mendatangi panggilan dan penantian Allah swt dengan senantiasa berbagi bersama mereka yang tengah mengalami penderitaan berupa kelaparan, kehausan, kemiskinan, bencana, penyakit, dan lain-lain.
Wallahua’lam.
sumber : www.syahadat.com
Selengkapnya...

Sampah Abad Berantakan (Membangun Budaya Bersih dalam Kesadaran Akhlakul Karimah)

Dalam pengalaman individu, kita menghadapi gejala-gejala yang demikian beraneka, demikian rumit dan saling bertentangan, sehingga jarang saja kita mampu melihat secara jernih. (Ernst Cassirer (1874-1945)



Manusia sudah berabad-abad hidup di bumi ini. Namun seiring usia bumi semakin tua, perilaku manusia terhadap bumi jauh dari kearifan. Manusia mutlak membutuhkan bumi untuk keberlangsungan hidup, tetapi manusia juga yang merusak dan menyakiti bumi ini. Itulah cermin manusia modern pada abad berantakan di mana nilai-nilai tidak dihormati, tidak dijadikan pandangan hidup, ditabrak, dilupakan, dan bahkan dibebaskan.

Adalah sampah yang menjadi kasus paling nyata. Ada kesan sampah sebagai sebuah teks yang gelap, yang tidak diberi ruang cahaya dalam akal sehat manusia. Sampah dicampakkan dan dimarjinalkan seperti dibuang ke parit, sungai, laut, jalan serta sudut-sudut lantai dan halaman kantor, ke taman-taman perumahan, lahan-lahan kosong atau lahan tidur milik orang lain, dan saluran air. Ironisnya juga masih ada sampah yang dibuang di sekitar rumah sendiri-sendiri. Itu belum termasuk sampah di pasar-pasar, terminal-terminal, dan sekolah-sekolah. Di kawasan yang disucikan pun sampah terkadang masih tetap ada.

Bumi menjadi begitu kotor, kumuh, dan selera manusia untuk hidup sehat di bumi yang bersih seperti mati rasa. Memang ada yang mengolah sampah menjadi pupuk, tapi itu belum menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Manusia memang telengas dalam memperlakukan sampah : sampah dibuang sesuka hati, dan bahkan primitif seperti mencampurkan adukan sampah basah, kering, dan berbahaya. Limbah cair yang berbahaya pun masih saja dibuang ke sungai hingga merusak biota sungai. Lagi-lagi ini gambaran dalam abad berantakan di mana manusia sebagai makhluk berpikir menentang kesantuan, moral, kultur, keseimbangan alam, dan agama. Padahal Tuhan tidak pernah mencipta sesuatu di bumi ini dengan sia-sia.

Di sebuah perumahan dan pemukiman, pernah juga ditemukan kalimat di tembok-tembok yang sangat menonjok karena ditulis dengan kata-kata kasar : Jangan Buang Sampah di Sini Kecuali Binatang. Begitulah, bentuk ekpresi kekesalan yang campur baur dengan kekecewaan. Itu pun bisa membuat orang menjadi sakit lalu membentuk kristalisasi dendam. Dalam konteks ini sampah bukan lagi urusan pribadi, akan tetapi urusan sosial yang jika tidak dikelola dengan baik bisa memicu konflik. Maka negara atau pemerintah wajib melakukan intervensi.

Memang, membuang sampah tanpa pertimbangan rasional, religiusitas, aspek keindahan dan keselarasan serta kelestarian lingkungan, serta aspek-aspek sosial-budaya, bahkan etika, dan moralitas serta agama, akan merusak pencitraan sebuah kota dan perilaku masyarakatnya yang tidak cerdas, dinilai mundur atau terbelakang. Lebih dari itu, akan melahirkan bencana yang sangat pedih bagi manusia di bumi : banjir yang merusak infrastruktur kehidupan, kematian roda ekonomi, pengorbanan harta dan jiwa serta beragam penyakit yang berbahaya dan mengancam kehidupan manusia.

Perilaku kontroversial manusia dengan sampah masih terjadi di sebagaian kehidupan masyarakat Kota Tangerang, sehingga pada tahun 2007, Kota Tangerang ditetapkan sebagai “Kota Terkotor” dari kementrian lingkungan hidup, sebuah legitimasi yang sangat menyedihkan. Keputusan itu diprotes Wali Kota Tangerang H Wahidin Halim karena penilaian itu tidak relevan dengan kenyataan. Dan belum lama ini, Wahidin mewacanakan meminta fatwa kepada MUI Kota Tangerang tentang limbah dan sampah.

Adipura dan Perubahan Perilaku

Wahidin adalah figur Wali Kota yang berbeda dari kebanyakan Wali Kota yang lain. Ada karakteristik dan ciri khas pembeda dari Wahidin, yang kemudian dibuktikan dalam giroh untuk membangun birokrasi yang kuat dengan aparaturnya yang betul-betul bersih dan produktif, menjunjung nilai-nilai etika dan moralitas, serta kekuatan religius. Pondasi itu semata-mata untuk melayani keperluan dan kepentingan masyarakat Kota Tangerang dalam keikhlasan.

Wahidin mengabdikan hidupnya pada masyarakat dengan visi membangun masyarakat akhlakul karimah : sebuah masyarakat yang berakar pada nilai-nilai keluhuran akal budi. Akhlakul karimah melingkupi seluruh aspek kehidupan dan agama-agama. Tentu sudah ada pencapaian yang diraih Wahidin seperti Pelayanan Publik Terbaik tingkat nasional tahun 2008; dan Pengelolaan Keuangan Terbaik se-Indonesia versi BPK RI tahun 2007. Untuk bidang pendidikan meraih Tingkat Kelulusan se-Provinsi Banten dan Peringkat 5 tingkat nasional tahun 2007, dan beberapa prestasi mengkilap lainnya.

Namun sampai saat ini belum meraih Piala Adipura sebagai simbol dan pengharagaan terhadap kota yang bersih. Wahidin terus berbenah dengan melakukan gerakan penghijauan; lalu memindahkan pasar tradisonal yang jorok yang selama ini menjadi biang kekotoran di jantung kota; melakukan gerakan kebersihan secara masif yang melibatkan seluruh pegawai agar menjadi tauladan bagi masyarakat; mengeluarkan larangan merokok di lingkungan sekolah dan perkantora; melakukan sosialisasi melalui dialog warga; dan mengundang puluhan pengusaha untuk menandatangani kesepakatan tidak membuang limbah secara sembarang.

Target Wahidin meraih Adipura tahun 2012. Namun target itu lebih dipercepat, sekaligus juga dijadikan sebagai gerakan moral untuk merubah mainset perilaku masyarakat terhadap kebersihan. Suka tidak suka, perilaku hidup bersih memang masih rendah dalam kehidupan warga Kota Tangerang. Ada saja warga yang membuang sampah seperti dari mobil-mobil angkot, bahkan dari mobil-mobil pribadi yang mewah sekalipun, atau dari kendaraan bermotor seperti anak-anak kecil yang belum matang pikirannya. Oleh karena itu ada saja sampah yang berserakan atau tercecer di jalan-jalan, di perumahan dan pemukiman, di kawasan kantor-kantor seperti masih ada puntung-puntung rokok, di sekolah-sekolah bekas jajanan anak-anak, dan juga di terminal-terminal.



Wahidin menyadari dengan kondisi Kota Tangerang. Warga Kota Tangerang yang sudah mencapai 1,4 juta jiwa ini, kemudian menghasilkan sampah yang sangat produktif dengan timbunannya yang mencapai 3.367 M3 per hari. Sedangkan timbunan sampah yang terlayani baru mencapai 2.356 M3 per hari (tangerangkota.go.id). Karena itu masih ada persoalan pelayanan sampah sampai di tingkat masyarakat terkecil. Pembentukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan adalah langkah jenius dari Wahidin.

Pendekatan dan Regulasi

Kota Tangerang adalah sebuah wailayah dengan tingkat urbanisasi yang sangat tinggi. Suku-suku dari nusantara hidup di kota ini. Maka dalam membangun budaya bersih di kota ini dibutuhkan pendekatan yang beragam atau variatif juga yang kemudian diperkuat dengan regulasi yang mendukung visi itu. Pendekatan itu bisa berupa mengacu pada kultur dari mana warga itu berasal, namun bisa pula sebuah budaya yang diciptakan baru yang menjadi karakteristik kehidupan kota dengan penciptaaan simbol-simbolnya yang mudah diterima masyarakat kekinian di sebuah kota.

Itu membutuhkan kerja keras. Namun Wahidin bisa memaksimalkan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Porbudpar). Dinas ini kemudian bisa bekerja dengan para seniman dan budayawan untuk melakukan perubahan mainset dalam membangun budaya hidup bersih dengan membawa tema besar membersihkan Kota Tangerang dari sampah. Pendekatan kultural ini menjadi pola yang menarik karena yang disentuh atau yang diungkit adalah soal hati nurani, sisi kemanusiaan masyarakat.

Membangun budaya bersih ini juga bisa dilakukan melalui dunia pendidikan dengan memasukkan muatan lokal, atau bisa saja berupa tambahan jam pelajaran dari mata pelajaran yang sudah ada seperti pelajaran IPA, sosial, lingkungan, dan agama. Dinas Pendidikan bisa didorong untuk membuat konsepnya yang cerdas dan berkolaborasi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. Dari pendekatan intelektual ini akan lahir generasi baru yang akan lebih mengerti dalam memperlakukan sampah dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan secara disiplin.

Visi akhlakul karimah sudah pasti bisa dijadikan pendekatan untuk membangun budaya bersih di masyarakat. Karena akhlakul karimah itu adalah sebuah konsep universal yang tidak menyentuh perbedaan suku apalagi agama-agama tertentu. Karena itu kesadaran religius perlu terus ditembuhkan karena membuang sampah sembarangan itu harus disadari sebagai dosa dalam kesadaran keimanan. Itu bisa melalui tokoh masyarakat, pemuda, dan agama, serta lembaga-lembaga sosial yang memiliki visi yang sama. Pemerintah Kota Tangerang juga bisa mendengar ide-ide dari dari masyarakat tentang pengelolaan dan penanganan sampah

Namun Pemkot juga tak bisa selamanya menggantungkan pada pendekatan-pendekatan semacam itu.Karena itu perlu dibuat aturan yang sifatnya mengikat terhadap pelanggar lingkungan, mengingat pelanggaran terhadap lingkungan memiliki kemungkinan tetap terjadi. Karena itu Wahidin perlu menggulirkan regulasi khusus tentang pelarangan membuang sampah sembarangan yang didukung oleh DPRD. Larangan, sanksi dan denda itu harus betul-betul ditegakan. Manusia memang harus dipaksa dan disadarkan agar taat pada aturan sebagai bentuk dari manusia yang beradab, tanpa melupakan sosialisasi yang maksimal.

Pada gilirannya Pemkot wajib menyediakan tempat-tempat sampah di tempat-termpat strategis, dan menyediakan kendaraan pengangkut sampah dalam ukuran kecil hingga bisa masuk ke pemukiman-pemukiman. Dalam kontek ini, dari mulai RT/RW, kelurahan, dan kecamatan bisa dilibatkan, digerakan untuk turun ke masyarakat secara langsung, masyarakat juga terus dimotivasi agar respon terhadap gerakan ini. Dengan begitu, lambat laun perilaku masyarakat dalam membangun budaya hidup bersih akan terbentuk dari kesadaran hukum, intelektual, budaya, dan alkhalul karimah atau religius. Siapa yang tak ingin Kota Tangerang menjadi kota yang bersih dan bebas dari sampah? Sesunguhnya itulah dirindukan kita sejak lama. ***

Budi Sabarudin, wartawan Fajar Banten
www.tangerangkota.go.id
Selengkapnya...

Selasa, Agustus 04, 2009

Asinan Tangerang: Asem, Manis, Pedas, dan Gurih

BUKAN hanya bogor saja yang punya asinan istimewa, di Kota Tangerang kuliner bercita-rasa segar-segar nikmat pun ada. Kuliner itu adalah Asinan Tangerang.
Sebenarnya asinan Tangerang telah berkembang sejak puluhan tahun lalu di kampung-kampung tua Kota Benteng ini. Semisal di Pasar Lama, Pinang, dan Babakan. Asinan berkuah cabe dicampur cuka, garam, dan bumbu kacang ini membuat asinan ini berbeda dengan asinan daerah lainnya.



Meskipun sayur-mayur atau buah yang dimasukkan ke dalam kuah campuran di atas hampir sama dengan asinan lainnya, tetapi asinan Tangerang dahulunya punya kekhasan tersendiri juga, yaitu dengan dimasukkan irisan kentang goreng.
Saat ini, tak banyak ada penjual asinan yang benar-benar bercita-rasa asinan Tangerang. Namun, bila penasaran ingin mencobanya, datanglah ke tepian Jl. KH Hasyim Asyhari, tepatnya di lingkungan RW 05 Kelurahan Nerotog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.
Kebetulan ada dua penjual asinan khas Tangerang di sana, yaitu Ny. Anisah – akrab dipanggil Mpok Manis dan Ny. Sofiah. Lokasi berdagang keduanya berhadap-hadapan, hanya dipisahkan Jl. KH Hasyim Asyhari.

Khas Rasa Tangerang
Penjual asinan Tangerang ini menuturkan perbedaan asinan Tangerang dengan asinan Betawi atau Bogor, dapat dilihat dari bumbunya. Khas asinan Tangerang memakai bumbu kacang, bukan bawang putih yang biasanya bening.
“Saat di lidah asinan Tangerang, akan terkecap rasa asem, manis, pedas bercampur rasa gurih bumbu kacangnya. Semuanya bersatu di mulut maka akan terasa sedap,” kata Mpok Manis.
“Sayur-mayurnya sendiri bisa memakai ketimun, toge, kol, wortel, sawi dan lobak,” tambah Sofiah. Rasanya akan bertambah nikmat saat asinan sayur ini bertemu dengan kerupuk mie, kerupuk tepung diberi warna kuning yang digoreng secara khusus.
Kemudian untuk asinan buah, isinya bisa memakai buah lobi-lobi, mangga, bengkuang, kedondong dan salak. Bila menyukai asinan buah pilihlah yang masa waktunya telah lama atau berada di dalam kulkas. Pasalnya potongan-potongan buahnya lebih empuk dan enak saat dikunyah. Belum lagi air bumbunya yang menyegarkan mulut.
“Di sini pembeli boleh menambah atau mengurangi rasanya sendiri sesuai selera. Sementara kami membantu mengepaskan rasanya saja,” kata Mpok Manis yang juga mengatakan bila di siang hari pembelinya selalu banyak.
Asinan, baik yang sayur maupun buah per kantong plastik dijual Rp 6.000. Para pembeli sendiri ada yang menyantapnya di warung itu atau dibawa pulang ke rumah. “Kalau untuk arisan atau prasmanan, biasanya pelanggan akan memesannya jauh-jauh hari,” tambah Sofiah.

Pembeli Luar Daerah
Keberadaan asinan khas Tangerang sendiri sebenarnya sudah cukup dikenal. Jangan heran, bila pembelinya tidak hanya datang dari Kota Tangerang dan sekitarnya saja, tetapi juga dari luar daerah.
Semisal pelanggan dari Jakarta, Bali, Manado, atau Padang. Mereka yang hobbi asinan ini, saat datang ke Kota Tangerang, tak mau melewatkan waktu untuk mampir di warung asinan Mpok Manis dan Ny. Sofiah.
Para pembeli yang seringkali datang berrombongan ini, selain menikmatinya di warung, sebagian besar sengaja membeli asinan dalam bungkusan untuk oleh-oleh pulang ke daerahnya. ***

Sumber : www.tangerangkota.go.id

Selengkapnya...

Lepet Asli Tangerang, Bikin Lidah Bergoyang

LEPET adalah makanan dari beras ketan yang dibungkus daun kelapa dengan proses pematangannya direbus. Penganan ini akrab dengan warga Kota Tangerang, bahkan Jabodetabek, khususnya yang dijajakan di tepian di kamoung-kampung, sekolah-sekolah, dan tepian jalan protokol khususnya di bulan Ramadhan.

Tahukan anda bahwa penganan ini ternyata banyak diproduksi warga Kampung Ketapang, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Mulailah dari tangan-tangan termapil warga di sini, lepet menyebar ke banyak kampung, sekolah, dan tepian jalan-jalan protokol di Tangerang dan DKI Jakarta.
Makanan cemilan yang sebelumnya sudah melangka tetapi kini mulai digemari lagi, sebelumnya hanya ditemui bila ada kendurian dan hiburan warga, semisal pertunjukan layar tancap. Yang menjualnya pun para orangtua yang sudah memiliki cucu. Namun kini, lepet sudah banyak diproduksi orang, meskipun tak seasli lepet produksi Ketapang.
Lepet dapat disantap dalam suasana apa saja. Agar lebih mantap biasanya pendamping makanan bulat seperti bantal itu cocoknya dengan telur asin atau kopi. Rasa asli lepet sendiri gurih dan lezat. Yang membuat gurih dan lezat itu adalah karena rasa beras ketannya yang dicampur sari kelapa dan butiran kacang tunggak.
Camun, usia 60 tahun, pembuat lepet, saat dihubungi Rabu (17/6), mengungkapkan agar lepet terasa gurih dan wangi, kelapanya meski diparut dan direbusdengan kayu bakar. “Makin lama merebus biasanya semakin legit,” kata nenek 14 cucu ini.
Proses pembuatannya beras ketan dicuci lalu dimasak, kemudian kelapa diparut. Setelah diadon, beras ketan dibungkus memakai daun kelapa. Selanjutnya direbus selama 2 jam.
Dalam sehari Camun memasak 20 liter beras ketan. Beras sebanyak itu bisa menjadi 1.000 bungkus lepet yang dijual Rp 500. Keluarganya menjual ke pasar Kebon Jeruk di Jakarta Barat dan Kapuk, Jakarta Utara.
Usaha ini sendiri banyak dilakoni warga Ketapang yang telah menjadi nafkah pencarian keluarga mereka. Pesanan pun sesekali datang dari PKK kelurahan, kecamatan, dan Kota Tangerang, termasuk pesanan hajatan warga. ***

Sumber : www.tangerangkota.go.id

Selengkapnya...

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner