Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 05, 2009

SINAR MATAHARI YANG MENYEHATKAN

Studi terbaru tentang Bioteknologi menemukan bahwa, Sinar-Inframerah-Gelombang Panjang (Far Infrared/FIR dengan panjang gelombang antara 6-14 mikron) yang bisa kita dapat pada saat matahari condong yaitu sebelum pukul 09.00 pagi dan setelah pukul 16.00 sore, berperan penting dalam formasi dan pertumbuhan makhluk hidup. Termasuk memiliki banyak manfaat untuk tubuh manusia .

Manfaat itu antara lain :
- Membantu memproduksi Vit.D. Disaat mengenai kulit, sinar matahari mengubah simpanan kolesterol di bawah kulit menjadi Vit. D. Memaparkan 5 menit, akan memberikan 400 unit Vit D.Vit D yang dihasilkan akan membantu penyerapan kalsium yang bermanfaat untuk menguatkan tulang, memperbaiki tulang dan mencegah osteoporosis, Rakhitis dan Osteomalacia (Pelembutan tulang yang tidak normal)
-Sinar matahari memiliki efek desinfektan atau pembersih kuman.Bisa membunuh bakteri, Virus dan jamur.
Sangat bermanfaat untuk perawatan TBC, keracunan darah, peritonitis, pnemonia dan asma saluran pernafasan.
-Menurunkan resiko diabetes, karena sinar matahari memberikan kemudahan bagi glukosa untuk diserap masuk ke dalam sel sel tubuh. ini merangsang tubuh untuk mengubah gula darah (Glukosa) menjadi gula yang tersimpan (Glycogen) yang tersimpan di hati dan otot , sehingga menurunkan gula darah.
-Meningkatkan kapasitas darah untuk membawa oksigen dan menyalurkan kejaringan-jaringan tubuh.
-Menambah sel darah putih, terutama limfosit, yang digunakan untuk menyerang penyakit dan antibodi (Gamma Globulins)menjadi bertambah.

Demikian semoga bermanfaat.

Sumber
Majalah Ar-risalah
Sya'ban-Ramadhan 1430 H/Agustus 2009
Selengkapnya...

Selasa, Agustus 04, 2009

Waspadai Penyakit Pancaroba Pada Anak

Saat pergantian musim terjadi, tubuh beradaptasi ekstra keras menghadapi perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan. Udara yang semula panas-kering, tiba-tiba menjadi dingin-lembap. Kondisi ini, menimbulkan ketidaknyamanan, juga membuat tubuh mudah terserang penyakit. Umumnya musim pancaroba diawali hujan yang tidak merata.Ini menyebabkan sebagian kawasan masih tetap berdebu dan berudara panas.

Selanjutnya, debu dan kotoran yang masih tersisa di kawasan tersebut dengan mudah diterbangkan angin ke kawasan lain, dan menjadi vektor (pembawa) penyakit. Anak-anak, terutama usia balita, termasuk yang rentan penyakit di musim pancaroba. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi gangguan kesehatan yang merugikan.

Demam
Demam adalah salah satu gangguan kesehatan yang kerap diderita anak di musim pancaroba. Ini bisa jadi lantaran baru di musim pancaroba inilah anak-anak digempur serangan berbagai kuman (biasanya virus) secara besar-besaran. Demam bukan penyakit. Melainkan gejala bahwa tubuh tengah membangun pertahanan melawan infeksi. Lebih tepatnya, demam bisa merupakan gejala aneka penyakit. Mulai infeksi ringan sampai yang serius.

Penyakit Saluran Pernafasan

Salah satu penyakit anak di musim pancaroba yang didahului demam adalah penyakit pada sistem pernapasan. Demam yang merupakan gejala penyakit sistem pernafasan biasanya ringan sampai sedang (37,4 – 39,4 derajat Celsius).

Tapi pada beberapa kasus influensa pada anak, demam bisa mencapai 39,9 derajat Celsius. Gejala awal penyakit saluran pernapasan bisa berupa batuk, yang kadang disertai sesak napas. Bisa juga berupa batuk yang disertai pilek, bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh. Bisa juga muncul gejala khusus, yaitu pernapasan yang tidak normal.

Berdasarkan lokasi yang diserang, penyakit ini dibedakan menjadi dua:

• Penyakit saluran pernapasan bagian atas .Umumnya gejala penyakit saluran napas bagian atas lebih ringan, misalnya batuk-pilek. Hanya saja pada kasus tertentu bisa muncul gejala yang serius, misalnya demam yang agak tinggi (pada radang tenggorok) dan toksemia atau keracunan (pada difteri).

• Penyakit saluran pernapasan bagian bawah.

Gangguan di bagian ini bisa memunculkan bronkopneumonia, yaitu radang paru-paru yang berasal dari cabang-cabang tenggorokan yang mengalami infeksi, dan bronkioetitis, yaitu infeksi serius pada cabang terakhir saluran napas yang berdekatan dengan jaringan paru-paru.

Penyakit Saluran Cerna

Di peralihan musim kemarau ke musim hujan, kasus penyakit ini menjadi tinggi lantaran banyaknya debu dan kotoran yang berpotensi menjadi vektor. Penyakit ini juga sangat erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan. Sebab penyakit ini umumnya disebabkan kuman atau virus yang biasa mencemari makanan dan minuman, apakah itu makanan buatan rumah ataupun makanan jajanan dari luar rumah. Mengingat pola makan anak yang cenderung semaunya, kemungkinan terjadinya penyakit ini menjadi sangat besar.

Penyakit saluran cerna biasanya didahului keluhan mencret, mual dan muntah. Gejala muntah dan mencret biasanya disertai demam, sakit kepala dan mulas-mulas. Tinja anak mungkin tampak berlendir dan bahkan berdarah (jika penyebabnya bukan infeksi, gejala muntah dan mencret jarang disertai mulas dan tinjanya pun tanpa lendir dan darah).

Agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan, pertolongan pertama biasanya diprioritaskan untuk menghentikan muntah dan mencret. Dan setelah diberi penanganan, dalam 3 hari umumnya keluhan berkurang. Jika tidak, anak perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius.



Pencegahan dan Pengobatan

Menjaga asupan makanan anak.
Nutrisi yang cukup - sesuai usia, berat badan dan aktivitas anak Anda - akan meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tidak mudah terserang penyakit.
Melengkapinya dengan multivitamin.
Suplemen ini mengandung beragam vitamin esensial (yang tidak bisa dibuat sendiri oleh tubuh). Bila diberikan secara tepat – komposisi dan dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan anak – multivitamin bisa membantu meningkatkan ketahanan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit pancaroba.
Pastikan setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut anak adalah yang terjamin kebersihannya. Artinya, selain harus lebih higienis dalam mengolah dan menyiapkan makanan di rumah, bujuklah anak untuk tidak jajan sembarangan.

Sumber : http://www.conectique.com
Selengkapnya...

Waspadai Musim Pancaroba

MUSIM Pancaroba! Demikian masyarakat menyebut iklim saat ini. Hal itu karena seringnya terjadi perubahan cuaca dari terik matahari yang panas di musim yang sudah masuk pada kemarau menjadi hujan lebat kadang disertai petir dan angin ribut dengan udara yang tiba-tiba dingin. Demikian sebaliknya. Suhu udara jadi sering berganti. Pagi dan malam hari yang biasanya dingin menjadi terasa sangat panas. Perubahan cuaca yang drastis ini tentu saja membuat tubuh harus pandai beradaptasi dengan cuaca. Untuk itu dibutuhkan stamina yang prima atau fit. Jika tidak, tubuh menjadi kurang dapat beradaptasi. Inilah yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit terutama bagi mereka yang sering bekerja keras dan kurang beristirahat.

Penyakit yang sering menyerang tubuh di musim pancaroba atau musim peralihan adalah flu, batuk, pilek, demam, gangguan saluran napas atau infeksi saluran pernapasan, radang tenggorokan, masuk angin, influenza, gangguan pencernaan seperti diare, dan tifus abdominalis. Kemunculan penyakit-penyakit tersebut kasusnya menjadi tinggi pada awal perubahan musim pancaroba disebabkan juga banyaknya bakteri atau virus yang mencemari lingkungan sekitar kita ditambah menurunnya daya tahan atau stamina kita pada musim peralihan ini. Berikut ini adalah solusi agar tubuh tetap fit di tengah cuaca yang kurang bersahabat :

Konsumsi makanan bergizi. Daya tahan tubuh yang baik selain butuh makanan yang cukup jumlahnya, juga harus memenuhi semua unsur gizi yang dibutuhkan tubuh yaitu : karbohidrat, lemak,protein, vitamin,dan mineral. Istirahat yang cukup. Tidur 6-8 jam sehari. Kurang istirahat dapat menurunkan daya tahan tubuh kita.
Sempatkan berolahraga secara rutin minimal 3 kali seminggu selama 30 menit.
Konsumsi minuman sulpemen yang tepat. Sebagian besar dari kita sulit memenuhi kebutuhan gizi harian dengan diet yang seimbang, sehingga suplemen penambah stamina diperlukan terutama di musim pancaroba. Pilih minuman penambah stamina yang benar-benar mengandung vitamin B yang lengkap yang diperlukan untuk menjaga stamina tubuh seperti vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B8 dan B12. Selain itu, makanan/minuman energi tersebut dalam kemasannya harus mencantumkan kandungan zat, aturan pakai, masa kadaluarsa dan nomor registrasi badan pengawasan obat makanan (BPOM).
Kelola Stress dengan baik. Hanya dengan belajar mengelolanya secara tepat, kita dapat terhindar dari dampak negatif stress seperti sulit tidur, nafsu makan berkurang yang pada akhirnya mempengaruhi daya tahan tubuh kita.
Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas sehari.
Menjaga kebersihan makanan dan minuman, membersihkan sesudah buang air besar atau menjelang makan serta menjaga kebersihan lingkungan, memberantas lalat, nyamuk, kecoa, semut.
Bila terjadi keluhan yang serius, segera pergi ke dokter.
Lakukan tips diatas secara rutin dan berkelanjutan maka kita akan terhindar dari penyakit pancaroba untuk masuk ke dalam tubuh kita.

Sumber :
http://www.analisadaily.com


Selengkapnya...

Senin, Agustus 03, 2009

Alergi

Apakah alergi itu?

Alergi adalah reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu benda yang umumnya tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Saat Anda alergi maka sistem kekebalan tubuh Anda akan mengenali bahan yang masuk (yang tidak berbahaya bagi sebagian besar orang) sebagai bahan yang berbahaya bagi tubuh Anda. Bahan yang menyebabkan reaksi alergi seperti makanan tertentu, debu, serbuk sari atau obat disebut alergen. Dalam rangka melindungi tubuh maka sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi IgE terhadap alergen tersebut. Antibodi IgE menyebabkan sel-sel tertentu dalam tubuh untuk mengeluarkan bahan-bahan kimia ke dalam aliran darah, salah satu bahan kimia yang dikeluarkan adalah histamin.

Histamin akan mempengaruhi mata, hidung, tenggorokan, paru-paru, kulit atau saluran pencernaan dan menyebabkan gejala-gejala dari reaksi alergi. Paparan berikutnya terhadap alergen yang sama akan memicu pembentukan antibodi IgE kembali sehingga setiap Anda terpapar alergen yang sama maka Anda akan mengalami reaksi alergi. Reaksi alergi dapat ringan berupa hidung berair, atau dapat berat seperti kesulitan bernapas. Pada serangan asma merupakan contoh reaksi alergi terhadap sesuatu yang terhirup ke dalam paru-paru orang yang memiliki bakat alergi/rentan alergi.

Alergi juga menimbulkan bermacam-macam gejala, pada keadaan berat walaupun jarang dapat terjadi reaksi alergi berat atau anfilaksis. Tanda anfilaksis adalah kesulitan bernapas, kesulitan menelan, pembengkakan bibir, lidah dan tenggorokan atau bagian tubuh lainnya dan pusing atau kehilangan kesadaran. Anafilaksis umumnya timbul beberapa menit setelah terpapar bahan alergen, seperti kacang, namun dapat juga baru muncul dalam 4 jam. Untungnya anfilaksis cukup jarang dan dapat dilewati bila ditatalaksana dengan baik.

Mengapa orang mengalami alergi?

Kecenderungan untuk mengalami alergi umumnya diturunkan melalui alur genetik. Walaupun orang tua atau saudara kandung memiliki alergi bukan berarti kita juga akan mengalami alergi. Seseorang tidak secara khusus mendapat alergi khusus tetapi hanya kecenderungan / bakat mengalami alergi

Barang/bahan apa yang menyebabkan alergi pada umumnya?

Beberapa alergen yang umum adalah :

Makanan. Alergi makanan seringkali terjadi pada bayi dan umumnya menghilang saat bayi lebih besar. Banyak gejala seperti ruam yang gatal, hidung tersumbat dan diare. Makanan yang paling sering menyebabkan alergi adalah susu dan produk turunannya, telur, kacang, kedelai, seafood

Gigitan dan sengatan serangga. Racun dari gigitan dan sengatan serangga dapat menyebabkan reaksi alergi pada banyak orang. Alergi ini dapat menjadi berat dan menyebabkan anafilaksis pada beberapa orang.

Partikel-partikel di udara. Ini disebut alergen lingkungan dan ini merupakan alergen yang paling sering. Beberapa contoh partikel udara yang menyebabkan alergi adalah tungau debu rumah; spora jamur; serpihan kulit binatang atau liur yang kering; serbuk sari tumbuhan

Obat. Antibiotik adalah obat yang paling sering menyebabkan reaksi alergi. Obat-obatan lainnya termasuk obat yang dijual bebas juga dapat menyebabkan reaksi alergi.

Bahan kimia. Kadangkala bahan kosmetik atau deterjen dapat menyebabkan urtikaria. Umumnya hal ini terjadi karena seseorang bereaksi terhadap bahan kimia dalam produk tersebut. Bahan pewarna, pembersih rumah tangga dan pestisida dapat juga menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang.

Bagaimana dokter mendiagnosis dan menatalaksana alergi?

Jika dokter keluarga Anda memduga Anda mengalami alergi maka dokter akan mengumpulkan data-data gejala dan riwayat mengenai alergi. Dokter dapat mengusulkan pemeriksaan tambahan untuk memastikan alergi (tergantung tipe alergi, bisa berupa tes kulit atau tes darah) atau dokter keluarga dapat merujuk Anda ke ahli alergi. Cara yang paling utama untuk mengatasi reaksi alergi adalah penghindaran dari alergen (avoidance). Dokter juga akan memberikan obat untuk mengurangi reaksi alergi.

Avoidance (Pencegahan)

Pada kasus alergi makanan, pencegahan adalah satu-satunya cara mengatasi alergi makanan. Dengan tidak makan makanan yang sudah terbukti menyebabkan alergi. Dengan avoidance maka orang dapat terlindungi dari alergen kimia dan alergen non-makanan. Pada beberapa orang dengan avoidance cukup untuk mencegah reaksi alergi sehingga tidak perlu menggunakan obat antialergi.

Beberapa cara mencegah alergen udara

• Jauhkan binatang peliharaan dari ruangan tertentu, misal tidak boleh ada binatang peliharaan di dalam kamar tidur. Mandikan binatang peliharaan secara teratur

• Jangan gunakan karpet atau bahan-bahan berbulu dalam ruangan Anda (karena karpet mengumpulkan deb

• Jangan menggantung pakaian karena dapat mengumpulkan debu

• Bersihkan rumah/ruangan secara teratu

• Gunakan pelapis untuk bantal atau tempat tidur jika Anda alergi tungau debu rumah

• Jika Anda alergi serbuk sari maka tutup jendela saat musim penyerbukan, ganti baju setiap Anda dari luar ruanga

• Hindari tempat lembab seperti ruang bawah tanah jika Anda alergi terhadap spora jamur. Jaga kamar mandi dan ruangan yang lembab tetap bersih dan kering.


Obat-obatan

Obat seperti obat minum dan semprot hidung seringkali digunakan untuk mengobati alergi. Obat alergi dapat mengobati gejal alergi (seperti bersin, sakit kepala atau hidung tersumbat) namun tidak menyembuhkan dan tidak menghilangkan bakat alergi.

Obat untuk alergi berat / anafilaksis adalah epinefrin. Jika Anda memiliki riwayat riwayat anafilaksis maka dokter dapat menyarankan Anda untuk membawa epinefrin auto inject.

Imunoterapi

Imunoterapi dengan cara pemberian injeksi sejumlah kecil alergen, sehingga tubuh Anda secara bertahap dapat membentuk antibodi dan mengubah sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah reaksi terhadap zat alergen nantinya.

Imunoterapi direkomendasikan untuk alergi yang spesifik, seperti alergi yang terhirup (seperti serbuk sari atau debu binatang) atau sengatan binatang. Imunoterapi tidak berkerja pada alergi lain seperti alergi makanan.

Menghadapi alergi

Saat Anda mengalami alergi maka yang paling penting adalah mencegah agar tidak terpapar alergen. Jika Anda alergi makanan maka hindari makanan pemicu alergi. Jika Anda alergi terhadap alergen lingkungan maka tetap jaga rumah bersih dari tungau debu rumah dan bulu-bulu binatang. Jika alergi bahan kimia maka hindari bahan kimia yang menyebabkan alergi, pilih deterjen yang bebas parfum dan pewarna, hindari kosmetik dan produk kecantikan.

Jika Anda menggunakan obat anti alergi maka ikuti petunjuk pemakaian dan jangan lupa untuk kontrol ke dokter. Jika Anda mengalami alergi berat maka pertimbangkan Anda menggunakan tanda identitas bahwa Anda memiliki riwayat alergi berat.

Disarikan dari

Allergies. William J.Geimeier.

http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=familydoctor&article_set=20954&lic=44&cat_id=20156#www.sehatgroup.com

Selengkapnya...

Jumat, Juli 31, 2009

HIV/AIDS

A. HIV/AIDS


Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya imunitas tubuh sebagai akibat dari serangan Human Imunodeficiency Virus, maka penderita mudah diserang berbagai macam penyakit infeksi dan kanker yang tidak biasa. Kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hingga September 2008, penderita AIDS yang dilaporkan berjumlah 13.958 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (1997-2007) terjadi peningkatan kasus AIDS lebih dari 40 kali.

a. Gejala dan Tanda

Bila seseorang terserang HIV gejala awalnya sama dengan gejala serangan penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti:

Demam tinggi

Malaise, flu, radang tenggorokan, sakit kepala, nyeri perut, pegal-pegal, sangat lelah dan terasa meriang.

Setelah beberapa hari s/d sekitar 2 (dua) minggu kemudian gejalanya hilang dan masuk ke fase laten (fase tenang disebut juga fase inkubasi).

Beberapa tahun s/d sekitar 10 (sepuluh) tahun kemudian baru muncul tanda dan gejala sebagai penderita AIDS. Tanda dan gejala AIDS tersebut diantaranya :

- Mencret sampai berbulan-bulan

- Berat badan menurun drastic

- Infeksi yang tidak kunjung sembuh

- Pucat dan lemah

- Gigi sering berdarah

- Berkeringat waktu malam hari

- Pembesaran di kelenjar getah bening

b. Cara Penularan

1) Hubungan seksual, dengan risiko penularan 0,1-1% tiap hubungan seksual

2) Melalui darah, yaitu:

Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90-98%

Tertusuk jarum yang mengandung HIV, resiko penularan 0,03%

Terpapar mukosa yang mengandung HIV risiko penularan 0,0051%

3) Transmisi dari ibu ke anak

Selama kehamilan

Saat persalinan, risiko penularan 50%

Melalui air susu ibu (ASI) 14%

c. Diagnosis

Stadium Klinis WHO

Pemeriksaan diagnostic dengan tiga jenis rapid test HIV yang berbeda


Selengkapnya...

Tuberkulosis

1. Identifikasi

Penyakit yang disebabkan oleh mikrobakterium ini merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian hampir di sebagian besar negara diseluruh dunia. Infeksi awal biasanya berlangsung tanpa gejala; tes tuberkulin akan memberikan hasil yang positif 2 – 10 minggu kemudian. Lesi awal pada paru umumya akan sembuh dengan sendirinya tanpa meninggalkan gejala sisa walaupun sangat jarang terjadi kalsifikasi pada kelenjar limfe paru dan kelenjar limfe trakeobronkial. Hampir 90 – 95% mereka yang mengalami infeksi awal akan memasuki fase laten dengan risiko terjadi reaktivasi seumur hidup mereka. Pemberian kemoterapi preventif yang sempurna dapat mengurangi risiko terjadinya TB klinis seumur hidup sebesar 95% dan kemoterapi preventif ini sangat efektif pada penderita HIV/AIDS. Hanya 5% dari orang normal dam 50% penderita HIV/AIDS yang terinfeksi TB akan berkembang menjadi TB paru klinis atau menjadi TB ekstrapulmoner. Akibat serius infeksi TB awal lebih sering terjadi pada bayi, dewasa muda dan pada orang dengan kelainan imunitas.

TB ekstrapulmoner lebih jarang terjadi dibandingkan dengan TB paru. Anak-anak dan orang-orang dengan imunodefisiensi seperti halnya pada penderita HIV/AIDS lebih mudah mendapatkan TB ekstrapulmoner, namun TB paru tetap merupakan bentuk klinis yang menonjol dari infeksi TB di seluruh dunia. Infeksi TB dapat juga menyerang organ-organ lain dalam tubuh manusia seperti kelenjar limfe, pleura, perikardium, ginjal, tulang dan sendi, laring, telinga bagian tengah, kulit, usus, peritonium dan mata. TB Paru progresif muncul dari reinfeksi eksogen atau muncul dari reaktivasi endogen dari fokus laten infeksi primer. Penderita TB progresif jika tidak diobati dengan benar akan meninggal dalam waktu lima tahun, rata-rata dalam waktu 18 bulan. Status klinis ditentukan dengan ditemukannya basil TB dalam sputum atau dari gambaran foto thorax. Gambaran densitas abnormal pada foto thorax sebagai tanda adanya infiltrat pada paru, kavitasi dan fibrosis. Gambaran ini bisa muncul sebelum timbul gejala klinis: lesu, demam, berkeringat dimalam hari, berat badan turun, dapat muncul lebih awal. Sedangkan gejala lokal seperti batuk, sakit dada, suara serak dan batuk darah menonjol pada stadium lanjut dari penyakit.

Orang dengan imunokompeten jika terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, M. africanum atau M. bovis akan memberikan hasil tes tuberkulosis dengan reaksi intermedier. Tes tuberkulosis menggunakan 5 IU International Standard of Purified Protein Deriva Standard (PPD-S). Reaksi dikatakan positif jika muncul indurasi dengan ukuran 5, 10 atau 15 mm tergantung pada tingkat pemajanan penyakit. Sekitar 10 – 20% penderita TB aktif tidak memberikan reaksi positif terhadap PPD. Dengan demikian, tes tuberkulin yang hasilnya negatif tidak berarti bahwa seseorang tidak menderita TB aktif. Hasil tes tuberulin dengan indurasi lebih dari 5 mm dianggap positif untuk anggota rumah tangga atau mereka yang kontak dengan penderita TB aktif. Sedangkan orang dengan gambaran foto thorax yang abnormal menandakan penderita TB lama yang sudah sembuh atau mereka yang terinfeksi oleh HIV/AIDS, sedangkan tes tuberkulin dengan diameter 10mm dianggap positif untuk orang-orang dengan faktor risiko (diabetes mellitus, pecandu obat dan alkohol), orang-orang yang tinggal didaerah prevalensi TB tinggi,

orang-orang yang tinggal di daerah dengan status sosial ekonomi rendah, penghuni dan staf suatu institusi seperti penjara dan rumah tahanan serta untuk anak-anak usia dibawah 4 tahun. Sedangkan hasil tes tuberkulin dengan diameter 15 mm atau lebih dianggap positif pada oang dewasa dan anak-anak usia diatas 4 tahun yang tinggal didaerah dengan prevalensi TB rendah.

Tes tuberkulin terhadap penderita energi tidak dianjurkan walaupun untuk penderita dengan risiko tinggi seperti penderita dengan infeksi HIV. Tes tuberkulin untuk semua akan tidak lagi dilakukan di AS. Tes tuberkulin dilakukan segera terhadap anak-anak yang diduga menderita TB aktif, terhadap mereka yang berkunjung kedaerah endemis dan kontak penderita, terhadap migran dari daerah endemis. Terhadap penderita penyakit kronis yang tidak bisa sembuh dan terhadap penderita HIV/AIDS dilakukan tes tekulin setiap tahun. Terhadap anak-anak yang terpajan dengan orang dengan risiko tinggi, tes tuberkulin dilakukan setiap 2 – 3 tahun. Tes tuberkulin untuk anak usia 4 – 6 tahun dan usia 11 – 12 tahun dilakukan bila orang tua mereka adalah imigran dari daerah endemis atau jika anak-anak tersebut tinggal didaerah risiko tinggi.

Kadang kala pada penderita TB terjadi hipersensitivitas tertunda terhadap tes tuberkulin yang akan menghilang dengan berjalannya waktu. Pada orang ini jika dilakukan tes tuberkulin, akan memberikan hasil yang negatif. Namun dapat juga terjadi tes tuberkulin pertama yang dilakukan akan merangsang tubuh untuk memberikan reaksi positif pada tes tuberkulin berikutnya. Reaksi “boosted” ini sering disalah artikan sebagai infeksi baru. “Boosting” juga terjadi pada orang yang mendapatkan vaksinasi BCG. Untuk membedakan reaksi “boosted” ini dengan infeksi baru dilakukan tes tuberkulin dua tahap. Apabila tes pertama dinyatakan negatif maka dilakukan tes tuberkulin yang kedua 1 – 3 minggu kemudian. Hasil positif pada tes kedua kemungkinan karena reaksi “boosted”. Berdasarkan hasil tes kedua, orang ini dianggap sebelumnya telah terinfeksi dan harus ditangani sebagaimana mestinya dan tidak dianggap sebagai konversi hasil tes tuberkulin. Jika tes kedua hasilnya juga negatif maka orang ini dianggap belum pernah terinfeksi.

Tes dua tahap dilakukan terhadap orang dewasa yang akan mendapat tes tuberkulin berkala, seperti halnya pada petugas kesehatan. Tes dua tahap ini dilakukan pada saat tes tuberkulin awal. Diagnosa presumptive penderita TB aktif dibuat jika ditemukan BTA positif dari sediaan sputum atau sediaan yang diambil dari cairan tubuh lainnya. Ditemukannya BTA positif indikasi untuk segera melakukan pengobatan dengan OAT. Diagnosa pasti ditegakkan jika ditemukan Mycobacterium tuberculosis, melalui kultur. Cara ini juga dapat dilakukan untuk uji sensitivitas organisme terhadap obat. Jika fasilitas laboratorium mikrobiologi tidak memadai maka diagnosa dapat dibuat berdasarkan gejala klinis yang ada dengan pemeriksaan histologis atau radiologis terhadap mereka yang memberikan hasil tes tuberkulin positif.

2. Penyebab Penyakit

Penyebab infeksi adalah kompleks M. tuberculosis. Kompleks ini termasuk M. tuberculosis dan M. africanum terutama berasal dari manusia dan M. bovis yang berasal dari sapi. Mycobacteria lain biasanya menimbulkan gejala klinis yang sulit dibedakan dengan tuberkulosis. Etiologi penyakit dapat di identifikasi dengan kultur. Analisis genetic sequence dengan menggunakan teknik PCR sangat membantu identifikasi non kultur.

3. Distribusi Penyakit

Tersebar diseluruh dunia. Pada awalnya di Negara industri penyakit tuberkulosis menunjukkan kecenderungan yang menurun baik mortalitas maupun morbiditasnya selama beberapa tahun, namun diakhir tahun 1980 an jumlah kasus yang dilaporkan mencapai grafik mendatar (plateau) dan kemudian meningkat di daerah dengan populasi yang prevalensi HIV–nya tinggi dan di daerah yang dihuni oleh penduduk yang datang dari daerah dengan prevalensi TB tinggi. Mortalitas dan morbiditas meningkat sesuai dengan umur, pada orang dewasa lebih tinggi pada laki-laki. Morbiditas TBC lebih tinggi diantara penduduk miskin dan daerah perkotaan jika dibandingkan dengan pedesaan.

Di AS insidensi TBC menurun sejak tahun 1994, penderita yang dilaporkan adalah 9,4/100.000 (lebih dari 24.000 kasus). Daerah dengan insidens rendah termasuk di berbagai wilayah di AS, kebanyakan kasus TBC berasal dari reaktivasi dari fokus laten yang berasal dari infeksi primer. Di sebagian daerah urban yang luas 1/3 kasus berasal dari infeksi baru. Walaupun TBC menempati rangking terendah diantara penyakit menular berdasarkan lama waktu pajanan. Namun pajanan dalam jangka waktu lama dalam lingkungan keluarga menyebabkan risiko terinfeksi sebesar 30%. Jika infeksi terjadi pada anak maka risiko menjadi sakit selama hidupnya sekitar 10%. Bila terjadi koinfeksi dengan HIV risiko pertahun menjadi 2-7% dan risiko kumulatif sebesar 60-80%. KLB dilaporkan terjadi pada kelompok orang yang tinggal pada ruangan yang tertutup seperti dipanti asuhan, penampungan tunawisma, rumah sakit, sekolah, penjara dan gedung perkantoran. Sejak tahun 1989 sampai dengan awal tahun 1990 telah dilaporkan terjadi KLB – MDR yang cukup ekstensif terutama terhadap rifampisin dan INH ditempat dimana banyak penderita HIV yang dirawat. KLB ini menimbulkan angka mortalitas tinggi dan terjadi penularan kepada petugas kesehatan. Dengan penerapan dan pelaksanaan yang ketat pedoman pemberantasan telah berhasil menanggulangi KLB ini.

Prevalensi infeksi TB yang ditemukan dengan tes tuberkulin meningkat sesuai dengan umur. Insidensi infeksi di negara berkembang menurun secara bermakna dalam beberapa dekade ini. Angka infeksi pertahun di AS rata-rata kurang dari 10/100.000 penduduk walaupun di beberapa daerah di AS angka kejadian infeksi baru pertahun lebih tinggi. Di daerah dimana terjadi infeksi dengan mycobacterium lain selain tuberkulosis menyebabkan reaksi silang yang menyulitkan interpretasi hasil tes tuberkulin.

Infeksi M. bovis pada manusia jarang terjadi di AS tetapi masih menjadi masalah dibeberapa daerah seperti didaerah perbatasan Meksiko dimana penyakit ini pada ternak tidak ditangani dengan baik dan masyarakat masih mengkonsumsi susu mentah.

4. Reservoir

Umumnya manusia berperan sebagai reservoir, jarang sekali primata, dibeberapa daerah terjadi infeksi yang menyerang ternak seperti sapi, babi dan mamalia lain.

5. Cara Penyebaran

Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil TB dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring pada waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi. Petugas kesehatan dapat tertulari pada waktu mereka melakukan otopsi, bronkoskopi atau pada waktu mereka melakukan intubasi.

TB laring sangat menular.

Kontak jangka panjang dengan penderita TB menyebabkan risiko tertulari, infeksi melalui selaput lendir atau kulit yang lecet bisa terjadi namun sangat jarang. TB bovinum penularannya dapat tejadi jika orang terpajan dengan sapi yang menderita TB, bisanya karena minum susu yang tidak dipasteurisasi atau karena mengkonsumsi produk susu yang tidak diolah dengan sempurna. Penularan lewat udara juga terjadi kepada petani dan perternak TB ekstra pulmoner (selain TB laring) biasanya tidak menular, kecuali dari sinus keluar discharge.

6. Masa inkubasi

Mulai saat masuknya bibit penyakit sampai timbul gejala adanya lesi primer atau reaksi tes tubrkulosis positif kira-kira memakan waktu 2 – 10 minggu. Risiko menjadi TB paru dan TB ekstrapulmoner progresif setelah infeksi primer biasanya terjadi pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten dapat berlangsung seumur hidup. Infeksi HIV meningkatkan risiko terhadap infeksi TB dan memperpendek masa inkubasi.

7. Masa Penularan

Secara teoritis seorang penderita tetap menular sepanjang ditemukan basil TB didalam sputum mereka. Penderita yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna dahaknya akan tetap mengandung basil TB selama bertahun tahun. Tingkat penularan sangat tergantung pada hal-hal sebagai berikut :

- Jumlah basil TB yang dikeluarkan

- Virulensi dari basil TB

- Terpajannya basil TB dengan sinar ultra violet

- Terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada saat bernyanyi.

- Tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pada waktu otopsi, intubasi atau pada waktu melakukan bronkoskopi.

Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer biasanya tidak menular.

8. Kerentanan dan Kekebalan

Risiko terinfeksi dengan basil TB berhubungan langsung dengan tingkat pajanan dan tidak ada hubungan dengan faktor keturunan atau faktor lainnya pada pejamu. Periode yang paling kritis timbulnya gejala klinis adalah 6–12 bulan setelah infeksi. Risiko untuk menjadi sakit paling tinggi pada usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak dan risiko meningkat lagi pada usia adolesen dan dewasa muda, usia tua dan pada penderita dengan kelainan sistem imunitas. Reaktivasi dari infeksi laten yang berlangsung lama sebagian besar terjadi pada penderita TB usia lebih tua. Untuk mereka yang terinfeksi oleh basil TB kemungkinan berkembang menjadi TB klinis meningkat pada penderita HIV/AIDS, mereka dengan kelainan sistem imunitas, mereka dengan berat badan rendah dan kekurangan gizi, penderita dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, penderita kanker, silikosis, diabetes, postgastrektomi, pemakai NAPZA. Orang dewasa dengan TB laten yang juga disertai dengan infeksi HIV kemungkinan untuk menderita TB klinis selama hidupnya berkisar antara 10% sampai dengan 60–80%. Interaksi kedua penyakit ini mengakibatkan terjadinya pandemi paralel dari penyakit TB: misalnya dinegara negara Sub Sahara di Afrika 10–15% orang dewasa menderita infeksi HIV dan TB. Angka kesakitan TB meningkat 5–10 kali lipat pada akhir pertengahan tahun 1990-an.

9. Cara-cara Pemberantasan

A. Cara-cara pencegahan

1). Temukan semua penderita TB dan berikan segera pengobatan yang tepat. Sediakan fasilitas untuk penemuan dan pengobatan penderita.

2). Sediakan fasilitas medis yang memadai seperti laboratorium dan alat rontgen agar dapat melakukan diagnosa dini terhadap penderita, kontak dan tersangka. Sediakan juga fasilitas pengobatan terhadap penderita dan mereka dengan risiko tinggi terinfeksi; sediakan fasilitas tempat tidur untuk mereka yang perlu mendapatkan perawatan. Di daerah dengan indensi penyakit yang tinggi pemeriksaan spuntum baik langsung secara mikroskopis maupun dengan kultur jika memungkinkan segera dilakukan terhadap penderita yang datang memeriksakan diri di fasilitas kesehatan karena adanya keluhan sakit didada. Biasanya hasil pemeriksaannya mempunyai nilai diagnosis yang tinggi.

3). Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang car-cara penularan dan cara-cara pemberantasan serta manfaat penegakan diagnosa dini.

4). Mengurangi dan menghilangkan kondisi sosial yang mempertinggi risiko terjadinya infeksi misalnya kepadatan hunian.

5). Program pemberantasa TB harus ada di seluruh fasilitas kesehatan dan difasilitas dimana penderita HIV/penderita imunosupresi lainnya ditangani (seperti di Rumah Sakit, tempat rehabilitasi, pemakai Napza, panti asuhan anak terlantar).

6). Pemberian INH sebagai pengobatan preventif memberikan hasil yang cukup efektif untuk mencegah progresivitas infeksi TB laten menjadi TB klinis. Berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap orang dewasa yang menderita infeksi HIV terbukti bahwa pemberian rejimen alternatif seperti pemberian rifampin dan pyrazinamide jangka pendek ternyata cukup efektif.

Pemberian terapi preventif merupakan prosedur rutin yang harus dilakukan terhadap penderita HIV/AIDS usia dibawah 35 tahun. Apabila mau melakukan terapi preventif, pertama kali harus diketahui terlebih dahulu bahwa yang bersangkutan tidak menderita TB aktif, terutama pada orang-orang dengan imunokompromais seperti pada penderita HIV/AIDS. Oleh karena ada risiko terjadinya hepatitis dengan bertambahnya usia pada pemberian isoniasid, maka isoniasid tidak diberikan secara rutin pada penderita TB usia diatas 35 tahun kecuali ada hal-hal sebagai berikut: infeksi baru terjadi (dibuktikan dengan baru terjadinya konversi tes tuberkulin); adanya penularan dalam lingkungan rumah tangga atau dalam satu institusi; abnormalitas foto thorax konsisten dengan proses penyembuhan Tb lama, diabetes, silikosis, pengobatan jangka panjang dengan kortikosteroid atau pengobatan lain yang menekan kekebalan tubuh, menderita penyakit yang menekan sistem kekebalan tubuh seperti HIV/AIDS.

Mereka yang akan diberi pengobatan preventif harus diberitahu kemungkinan terjadi reaksi samping yang berat seperti terjadinya hepatitis, demam dan ruam yang luas, jika hal ini terjadi dianjurkan untuk menghentikan pengobatan dan hubungi dokter yang merawat. Sebagian besar fasilitas kesehatan yang akan memberikan pengobatan TB akan melakukan tes fungsi hati terlebih dahulu terhadap semua penderita; terutama terhadap yang berusia 35 tahun atau lebih dan terhadap pecandu alkohol sebelum memulai pengobatan.

Prosedur DOPT (Directly Observed, Supervised Preventive Therapy), hendaknya diterapkan bila memungkinkan, misalnya ditempat tempat fasilitas perawatan/rehabilitasi pemakai Napza, sekolah dsb. Obat yang disediakan tidak boleh lebih dari untuk pemakaian satu bulan. Setiap bulan penderita diingatkan akan kemungkinan terjadiya efek samping. Pemerikasaan laboratorium untuk memantau apakah terjadi hepatitis tidak dilakukan secara rutin terkecuali timbul gejala-gejala hepatitis.

Pengobatan preventif dengan isoniasid tidak boleh diberikan pada penderita yang alergi terhadap obat ini atau pada penderita dengan riwayat hepatitis atau penyakit hati akut lainnya. Pada saat hamil pengobatan preventif ditunda pemberiannya sampai saat melahirkan, terkecuali pada penderita dengan risiko tinggi. Jika karena pertimbangan tertentu pengobatan preventif harus diberikan kepada ibu hamil maka harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Isoniasid harus diberikan dengan hati-hati kepada pecandu alkohol dan kepada penderita penyakit hati kronis. Penderita hepatitis C mempunyai risiko tinggi keracunan isoniasid. Kebijakan untuk pemberian pengobatan preventif secara massal sangatlah tidak realistis, kecuali ada sistem supervisi yang terorganisir secara rapi untuk mengawasi bahwa pengobatan dilakukan dengan benar. Dan didaerah tersebut dijamin juga bahwa program pengobatan terhadap penderita TB aktif menjamin angka kesembuhan yang tinggi. Semua penderita infeksi HIV dan mereka yang tes tuberkulinnya positif dan tidak menderita TB aktif harus diberikan pengobatan preventif.

7). Sediakan fasilitas perawatan penderita dan fasilitas pelayanan diluar institusi untuk penderita yang mendapatkan pengobatan dengan sistem (DOPT/DOTS) dan sediakan juga fasilitas pemeriksaan dan pengobatan preventif untuk kontak.

8). Terhadap mereka yang diketahui terkena infeksi HIV segara dilakukan tes Mantoux menggunakan PPD kekuatan sedang. Jika tes Mantouxnya positif (indurasi ± 5mm) maka segera diberikan pengobatan profilaktik, dengan catatan bahwa yang bersangkutan tidak menderita TB aktif. Sebaliknya terhadap semua penderita TB aktif harus dilakukan pemeriksaan dan dilakukan konseling jika fasilitas untuk itu tersedia.

9). Di AS dimana imunisasi BCG tidak dilakukan secara rutin terhadap mereka yang mempunyai risiko tinggi tertulari TB dan HIV dilakukan tes tuberkulin secara selektif dengan tujuan untuk menemukan penderita. Mereka yang diangap mempunyai risiko tinggi ini seperti petugas kesehatan, bayi yang lahir dari daerah risiko tinggi, kelompok risiko tinggi terinfeksi HIV sepeti pada pemakai Napza Suntik. Pada kelompok masyarakat dimana TB masih ada, perlu dilakukan tes tuberkulin secara sistematis untuk mengetahui kecenderungan insidensi penyakit.

Pemeriksaan radiologis diperlukan apabila ditemukan gejala klinis TB namun hasil pemeriksaan bakteriologisnya negatif. Imunisasi BCG dapat mengacaukan interpretasi tes tuberkulin yang dilakukan kemudian pada anak-anak dan oran dewasa. Namun reaksi akibat imunisasi BCG terhadap tes tuberkulin bekurang dengan perjalanan waktu, sehingga jika hasil tes tuberkulin positif kuat maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang bersangkutan menderita infeksi TB.

10). Pemberian imunisasi BCG terhadap mereka yang tidak terinfeksi TB (tes tuberkulin negatif), lebih dari 90% akan memberikan hasil tes tuberkulin positif.

Proteksi yang diberikan karena pemberian imunisasi BGC berbeda satu sama lain dari berbagai penelitian, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik penduduk , kualitas vaksin, strain dari vaksin BCG yang membrikan perlindungan dampai 20 tahun di wilayah dengan insidens TB tinggi, sedangkan hasil penelitian lain menunjukkan BCG sama sekali tidak memberikan perlindungan (Desain penelitian yang dipakai adalah “Controlled trials”).

Sedangkan pada penelitian dengan menggunakan desain “Case-Control” imunisasi BCG secara konsisten memberikan perlindungan terhadap terjadinya meningitis TB dan TB miliair pada anak usia dibawah 5 tahun. Oleh karena risiko penularan di AS sangat rendah maka imunisasi BCG secara rutin tidak dilakukan. Imunisasi BCG harus dipertimbangkan untuk diberikan kepada anak-anak dengan tes tuberkulin segatif yang karena sesuatu hal tidak boleh diberikan terapi preventif namun mereka secara terus menerus terpajan dengan sumber infeksi. Sumber infeksi ini bisa berupa penderita TB yang tidak mendapat pengobatan atau yang mendapat pengobatan tidak adekuat, penderita yang terinfeksi oleh organisme yang resisten terhadap isoniasid dan rifampin. Imunisasi BCG tidak boleh diberikan kepada mereka yang menderita penyakit-penyakit imunodefisiensi seperti penderita HIV/AIDS.

11). Lakukan eliminasi terhadap ternak sapi yang menderita TB bovinum dengan cara menyembelih sapi-sapi yang tes tuberkulinnya positif. Susu dipasteurisasi sebelum dikonsumsi.

12). Lakukan upaya pencegahan terjadinya silikosis pada pekerja pabrik dan tambang.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya

1). Laporkan segera kepada instansi kesehatan setempat jika ditemukan penderita TB atau yang diduga menderita TB. Penyakit TB wajib dilaporkan di AS dan hampir di semua negara di dunia kelas 2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular). Penderita TB perlu dilaporkan jika hasil pemeriksaan bakteriologis hasilnya positif atau tes tuberkulinnya positif atau didasarkan pada gambaran klinis dan foto rontgen. Departemen Kesehatan mempertahankan sistem pencatatan dan pelaporan yang ada bagi penderita yang membutuhkan pengobatan dan aktif dalam kegiatan perencanaan dan monitoring pengobatan.

2). Isolasi: Untuk penderita TB paru untuk mencegah penularan dapat dilakukan dengan pemberian pengobatan spesifik sesegera mungkin. Konversi sputum biasanya terjadi dalam 4 – 8 minggu. Pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit hanya dilakukan terhadap penderita berat dan bagi penderita yang secara medis dan secara sosial tidak bisa dirawat di rumah.

Penderita TB paru dewasa dengan BTA positif pada sputumnya harus ditempatkan dalam ruangan khusus dengan ventilasi bertekanan negatif. Penderita diberitahu agar menutup mulut dan hidung setiap saat batuk dan bersin. Orang yang memasuki ruang perawatan penderita hendaknya mengenakan pelindung pernafasan yang dapat menyaring partikel yang berukuran submikron. Isolasi tidak perlu dilakukan bagi penderita yang hasil pemeriksaan sputumnya negatif, bagi penderita yang tidak batuk dan bagi penderita yang mendapatkan pengobatan yang adekuat (didasarkan juga pada pemeriksaan sensitivitas/resistensi obat dan adanya respons yang baik terhadap pengobatan).

Penderita remaja harus diperlakukan seperti penderita dewasa. Penilaian terus menerus harus dilakukan terhadap rejimen pengobatan yang diberikan kepada penderita. Terapkan sistem DOPT apabila secara finansial dan logistik memungkinkan dan diterapkan pada penderita yang kemungkinan mengalami resistensi terhadap pengobatan, adanya riwayat compliance yang jelek, diberlakukan juga terhadap mereka yang hidup dalam lingkungan dimana kalau terjadi relaps dapat menularkan kepada banyak orang.

3). Pencegahan infeksi: Cuci tangan dan praktek menjaga kebersihan rumah harus dipertahankan sebagai kegiatan rutin. Tidak ada tindakan pencegahan khusus untuk barang-barang (piring, sprei, pakaian dan lainnya). Dekontaminasi udara dengan cara ventilasi yang baik dan bisa ditambahkan dengan sinar UV.

4). Karantina: Tidak diperlukan.

5). Penanganan kontak. Di AS terapi preventif selama 3 bulan bila skin tes negatif harus diulang lagi, imunisasi BCG diperlukan bila ada kontak dengan penderita.

6). Investigasi kontak, sumber penularan dan sumber infeksi: Tes PPD direkomendasikan untuk seluruh anggota keluarga bila ada kontak. Bila hasil negatif harus diulang 2-3 bulan kemudian. Lakukan X-ray bila ada gejala yang positif. Terapi preventif bila ada reaksi positif dan memiliki risiko tinggi terjadi TBC aktif (terutama untuk anak usia 5 tahun atau lebih) dan mereka yang kontak dengan penderita HIV (+), diberikan minimal sampai skin tes negatif. Sayang sekali di negara berkembang penelusuran kontak didasarkan hanya pada pemeriksaan sputum pada orang yang memiliki gejala-gejala TBC.

7). Terapi spesifik: Pengawasan Minum obat secara langsung terbukti sangat efektif dalam pengobatan TBC di AS dan telah direkomendasikan untuk diberlakukan di AS. Pengawasan minum obat ini di AS disebut dengan sistem DOPT, sedangkan Indonesia sebagai negara anggota WHO telah mengadopsi dan mengadaptasi sistem yang sama yang disebut DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Penderita TBC hendaknya diberikan OAT kombinasi yang tepat dengan pemeriksaan sputum yang teratur. Untuk penderita yang belum resisten terhadap OAT diberikan regimen selama 6 bulan yang terdiri dari isoniazid (INH), Rifampin (RIF) dan pyrazinamide (PZA) selama 2 bulan kemudia diikuti dengan INH dan PZA selama 4 bulan. Pengobatan inisial dengan 4 macam obat termasuk etambutol (EMB) dan streptomisin diberikan jika infeksi TB terjadi didaerah dengan peningkatan prevalensi resistensi terhadap INH. Namun bila telah dilakukan tes sensititvitas maka harus diberikan obat yang sesuai.

Jika tidak ada konversi sputum setelah 2-3 bulan pengobatan atau menjadi positif setelah beberapa kali negatif atau respons klinis terhadap pengobatan tidak baik, maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kepatuhan minum obat dan tes resistensi. Kegagalan pengobatan umumnya karena tidak teraturnya minum obat dan tidak perlu merubah regimen pengobatan. Perubahan Supervisi dilakukan bila tidak ada perubahan respons klinis penderita. Minimal 2 macam obat dimana bekteri tidak resisten harus ada dalam regiemen pengobatan. Jangan sampai menambahkan satu jenis obat baru pada kasus yang gagal. Jika INH atau rifampisin tidak dapat dimasukkan kedalam regimen maka lamanya pengobatan minimal selama 18 bulan setelah biakan menjadi negatif.

Untuk penderita baru TBC paru dengan BTA (+) di negara berkembang, WHO merekomendasikan pemberian 4 macam obat setiap harinya selama 2 bulan yang teridiri atas RIF, INH, EMB, PZA diikuti dengan pemberian INH dan RIF 3 kali seminggu selama 4 bulan. Semua pengobatan harus diawasi secara langsung, jika pada pengobatan fase kedua tidak dapat dilakukan pengawasan langsung maka diberikan pengobatan substitusi dengan INH dan EMB selama 6 bulan. Walaupun pengobatan jangka pendek dengan 4 macam obat lebih mahal daripada pengobatan dengan jumlah obat yang lebih sedikit dengan jangka waktu pengobatan 12- 18 bulan namun pengobatan jangka pendek lebih efektif dengan komplians yang lebih baik.

Penderita TBC pada anak-anak diobati dengan regimen yang sama dengan dewasa dengan sedikit modifikasi. Kasus resistensi pada anak umumnya karena tertular dari penderita dewasa yang sudah resisten terlebih dahulu.Anak dengan limfadenopati hilus hanya diberikan INH dan RIF selama 6 bulan.

Pengobatan anak-anak dengan TBC milier, meningitis, TBC tulang/sendi minimal selama 9-12 bulan, beberapa ahli menganjurkan pengobatan cukup selama 9 bulan. Etambutol tidak direkomendasikan untuk diberikan pada anak sampai anak cukup besar sehingga dapat dilakukan pemeriksaan buta warna (biasanya usia > 5 tahun). Penderita TBC pada anak dengan keadaan yang mengancam jiwa harus diberikan pengobatan inisial dengan regimen dengan 4 macam obat. Streptomisin tidak boleh diberikan selama hamil.

Semua obat kadang-kadang dapat menimbulkan reaksi efek samping yang berat. Operasi toraks kadang diperlukan biasanya pada kasus MDR.

C. Tindakan penanggulangan wabah

Tingkatkan kewasapadaan dini untuk menemukan dan mengobati penderita TBC baru yang tertulari oleh penderita yang tidak jelas. Lakukan penyelidikan intensif untuk menemukan dan mengobatai sumber penularan.

D. Implikasi Bencana: Tidak ada

E. Tindakan Internasional

Tindakan yang dianjurkan bagi imigran yang datang dari negara-negara dengan prevalensi TBC tinggi adalah melakukan skrining dengan foto thorax, tes PPD, pemeriksaan BTA dan kultur terhadap orang dengan tes PPD positif yang disertai gejala klinis. Manfaatkan pusat-pusat kerjasama WHO.


Sumber : http://www.penyakitmenular.info

Selengkapnya...

Rabu, Juli 29, 2009

DBD dan Pencegahannya

Bagi Anda yang tinggal di kawasan endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) harus mengetahui gejala penyakit ini, tujuannya agar bisa memberi pertolongan sedini mungkin. Dengan cara demikian, banyak nyawa yang akan terselamatkan. Provinsi Banten merupakan salah satu dari 7 propinsi di Indonesia yang terbesar jumlah penderitanya. Sumber Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan: Jumlah penderita yang besar terdapat di 7 propinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, dan Banten.

DEFINISI

Demam dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam. Demam berdarah dengue/dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan. Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan pasien jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut dengue shock syndrome (DSS).

PENYEBAB

Demam dengue dan DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan serotipenya adalah DEN-1, DEN-2,DEN-3, DEN-4.

Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumurhidup tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehinggaseseorang yang hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4kali seumur hidupnya.

Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari. Faktor resiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis. Salah satu pembawa utama dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti. Species ini umum di daerah tropis dan subtropis di seputar dunia. Jenis nyamuk ini berkembang pesat di daerah yang padat penduduk. Salah satu kunci untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan cara mengendalikan nyamuk-nyamuk tersebut.

Selain nyamuk Aedes Aegypti, Nyamuk Aedes albopictus juga bisa menularkan DBD. Bedanya, nyamuk ini hidup di luar rumah/sekolah. Bisa saja, si kecil digigit ketika asyik bermain.

Untuk menghindari perkembangbiakan nyamuk tersebut di lingkungan rumah anda, jangan biarkan ada genangan air. Terutama pada ban-ban bekas, di bawah pot bunga, kaleng-kaleng, ember, drum, botol dan aliran air yang tidak berfungsi dengan baik.

Beberapa peneliti telah mencoba pendekatan lain. Melalui rekayasa genetika, mereka berupaya untuk mencegah virus dengue menggandakan diri dalam air liur nyamuk. Jika ini berjalan sesuai rencana, nyamuk-nyamuk yang telah mengalami rekayasa genetika semacam itu akan meneruskan kepada keturunan mereka ketahanan terhadap dengue. Meskipun ada kemajuan, tetapi belum terlihat seberapa berhasil pendekatan ini nantinya.

GEJALA

Infeksi oleh virus dengue menimbulkan variasi gejala mulai sindroma virus nonspesifik sampai perdarahan yang fatal. Gejala demam dengue tergantung pada umur penderita. Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa demam disertai ruam-ruam makulopapular.Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam ringan atau demam tinggi (>39 derajat c) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri sendi danotot, mual-muntah dan ruam-ruam.

Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai bintik-bintik perdarahan di farings dan konjungtiva. Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri ditulang rusuk kanan dan nyeri seluruh perut. Kadang-kadang demam mencapai 40 - 41 derajat c dan terjadi kejang demam pada bayi.

DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa penderitanya, ditandai oleh : demam tinggi yang terjadi tiba-tiba manifestasi perdarahan hepatomegali/pembesaran hati kadang-kadang terjadi syok manifestasi perdarahan pada dhf dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik perdarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae

ini bisa terlihat di seluruh anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi. juga bisa terjadi perdarahan hidung, perdarahan gusi, perdarahan dari saluran cerna dan perdarahan dalam urin.

Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan :

  • Derajat I : demam diikuti gejala tidak spesifik. satu-satunya manifestasiperdarahan adalah tes torniquet yang positif atau mudah memar.
  • Derajat II : gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan. perdarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain.
  • Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab dan penderita gelisah.
  • Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidakdapat diperiksa. fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.

Setelah demam selama 2 - 7 hari, penurunan suhu biasanya disertai dengan tanda-tanda gangguan sirkulasi darah. penderita berkeringat, gelisah, tangan dan kakinya dingin, dan mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi. Pada kasus yang tidak terlalu berat gejala-gejala ini hampir tidak terlihat, menandakan kebocoran plasma yang ringan. Bila kehilangan plasma hebat, akan terjadi syok, syok berat dan kematian bila tidak segera ditangani. Kondisi yang buruk bisa segera ditangani dengan diagnosa dini dan pemberian cairan pengganti. Trombositopeni dan hemokonsentrasi sudah dapat dideteksi sebelum demam turun dan terjadi syok.

Pada penderita dengan DSS kondisinya dengan segera memburuk. Ditandai dengan nadi cepat dan lemah, tekanan darah menyempit sampai kurang dari 20 mmhg atau terjadi hipotensi. Kulit dingin, lembab dan penderita mula-mula terlihat mengantuk kemudian gelisah. Bila tidak segera ditangani penderita akan meninggal dalam 12 - 24 jam. Dengan pemberian cairan pengganti, kondisi penderita akan segera membaik. Pada syok yang berat sekalipun, penderita akan membaik dalam 2 -3 hari. Tanda-tanda adanya perbaikan adalah jumlah urine yang cukup dan kembalinya nafsu makan. Syok yang tidak dapat diatasi biasanya berhubungan dengan keadaan yang lain seperti asidosis metabolik, perdarahan hebat di saluran cerna atau organ lain. Perdarahan yang terjadi di otak akan menyebabkan penderita kejang dan jatuh dalam keadaan koma.

DIAGNOSA

Pada awal mulainya demam, dhf sulit dibedakan dari infeksi lain yang disebabkan oleh berbagai jenis virus, bakteri dan parasit. Setelah hari ketiga atau keempat baru pemeriksaan darah dapat membantu diagnosa. Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah :

  • Trombositopeni, jumlah trombosit kurang dari 100.000 sel/mm3
  • Hemokonsentrasi, jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20% di atas rata-rata.
  • Hasil laboratorium seperti ini biasanya ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-7.
  • Kadang-kadang dari x-ray dada ditemukan efusi pleura atau hipoalbuminemia yang menunjukkan adanya kebocoran plasma.
  • Kalau penderita jatuh dalam keadaan syok, maka kasusnya disebut sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS).

PENGOBATAN

untuk mengatasi demam sebaiknya diberikan parasetamol. salisilat tidak digunakan karena akan memicu perdarahan dan asidosis. parasetamol diberikan selama demam masih mencapai 39 derajat c, paling banyak 6 dosis dalam 24 jam. kadang-kadang diperlukan obat penenang pada anak-anak yang sangat gelisah. kegelisahan ini bisa terjadi karena dehidrasi atau gangguan fungsi hati. haus dan dehidrasi merupakan akibat dari demam tinggi, tidak adanya nafsu makan dan muntah.

Untuk mengganti cairan yang hilang harus diberikan cairan yang cukup melalui mulut atau melalui vena. Cairan yang diminum sebaiknya mengandung elektrolit seperti oralit. cairan yang lain yang bisa juga diberikan adalah jus buah-buahan.

penderita harus segera dirawat bila ditemukan gejala-gejala berikut :

  • takikardi, denyut jantung meningkat
  • kulit pucat dan dingin
  • denyut nadi melemah
  • terjadi perubahan derajat kesadaran, penderita terlihat ngantuk atau tertidurterus menerus
  • urine sangat sedikit
  • peningkatan konsentrasi hematokrit secara tiba-tiba
  • tekanan darah menyempit sampai kurang dari 20 mmhg
  • hipotensi.

pada tanda-tanda tersebut berarti penderita mengalami dehidrasi yang signifikan (>10% berat badan normal), sehingga diperlukan penggantian cairan segera secara intravena. cairan pengganti yang diberikan biasanya garam fisiologis, ringer laktat atau ringer asetat, larutan garam fisiologis dan glukosa 5%, plasma dan plasma substitute.

pemberian cairan pengganti harus diawasi selama 24 - 48 jam, dan dihentikan setelah penderita terrehidrasi, biasanya ditandai dengan jumlah urine yang cukup, denyut nadi yang kuat dan perbaikan tekanan darah. infus juga harus diberikan kalau kadar hematokrit turun sampai 40% .

bila pemberian cairan intravena diteruskan setelah tanda-tanda ini dicapai, akan terjadi overhidrasi, mengakibatkan jumlah cairan berlebih dalam pembuluh darah, edema paru-paru dan gagal jantung. oksigen diberikan pada penderita dalam keadaan syok. transfusi darah hanya diberikan pada penderita dengan tanda-tanda perdarahan yang signifikan.

PENCEGAHAN

pengembangan vaksin untuk dengue sangat sulit karena keempat jenis serotipe virus bisa mengakibatkan penyakit. perlindungan terhadap satu atau dua jenis serotipe ternyata meningkatkan resiko terjadinya penyakit yang serius.

saat ini sedang dicoba dikembangkan vaksin terhadap keempat serotipe sekaligus. sampai sekarang satu-satunya usaha pencegahan atau pengendalian dengue dan DHF adalah dengan memerangi nyamuk yang mengakibatkan penularan.

aedes aegypti berkembang biak terutama di tempat-tempat buatan manusia, seperti wadah plastik, ban mobil bekas dan tempat-tempat lain yang menampung air hujan. nyamuk ini menggigit pada siang hari, beristirahat di dalam rumah dan meletakkan telurnya pada tempat-tempat air bersih tergenang.

pencegahan dilakukan dengan langkah 3M Plus :

  • Menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember dan vas bunga seminggu sekali
  • Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong dan drum
  • Mengubur barang-barang bekas yang ada di sekitar atau diluar rumah yang dapat menampung air hujan seperti seperti kaleng bekas, botol, plastik dan tempurung kelapa ;
  • Plus Tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk :
  1. dengan membunuh jentik nyamuk demam berdarah ditempat air yang sulit dikuras atau sulit air dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.
  2. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  3. Mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk
  4. Mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok (repelant),
  5. Memasang kawat kasa pada jendela d an ventilasi
  6. Tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar

Di tempat yang sudah terjangkit DHF dilakukan penyemprotan insektisida secara fogging. tapi efeknya hanya bersifat sesaat dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai.di samping itu partikel obat ini tidak dapat masuk ke dalam rumah tempat ditemukannya nyamuk dewasa.

Untuk perlindungan yang lebih intensif, orang-orang yang tidur di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu, memasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, menggunakan semprotan nyamuk di dalam rumah dan obat-obat nyamuk yang dioleskan.

Jangan pernah menunda untuk pergi ke dokter jika terlihat gejala tersebut diatas terlebih lagi anak-anak yang lebih banyak beresiko.

Sedangkan Kiat-kiat bagi orang yang bepergian ke daerah tropis yang terinfeksi DBD:

  • Kenakan lengan panjang dan celana panjang.
  • Gunakan obat antinyamuk.
  • Jauhi daerah yang sangat padat penduduk.
  • Tinggalah di penginapan yang jendelanya dapat ditutup dan jagalah agar nyamuk tidak masuk.
  • Jika sepulangnya Anda mengalami demam, segera beri tahu dokter kemana Anda telah berpergian.
Selengkapnya...

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner